Iklan VIP

Redaksi
Senin, 19 Februari 2024, 20:15 WIB
Last Updated 2024-02-19T13:15:46Z

Penulis Itu Telah Mati

Jacob Ereste :



Penulis itu telah mati, sebelum semua karya dan kumpulan tulisannya yang telah lama hendak dia  terbitkan belum juga diwujudkan. Perkabungan pun di rumah duka sangat bersahaja dan sederhana. Karena memang, bagian dari wasiatnya kepada keluarga tak hendak merepotkan banyak orang.

Tak ada upacara khusus saat pelepasan jenazahnya dari pihak keluar. Hanya atas inisiatif rekan dekatnya yang terbilang pernah satu perjuangan dan penderitaan, meminta waktu memberikan kata-kata terakhir. Isyak tangis cuma meremang, sekedar saja, tak sampai  sesenggukan, kecuali kata haru yang liris, seakan mengiris setiap hati yang mendengar penuturan sohib sejatinya yang merasa terpukul, karena menyisakan janji yang pernah mereka sepakati untuk dilakukan bersama dalam satu bentuk menyusun kitab kehidupan.

Acara tahlilan pun dilaksanakan secara sederhana dan spontan, itu pun atas inisiatif sahabat karibnya yang sangat dekat semasa hidupnya. Tahlil dan tahmid, serta do'a khusus kepada almarhum ini disebut oleh berbagai kalangan cukup memberi kontribusi terhadap pembelaan dan perjuangan untuk rakyat.

Sejak pemakaman di kampung tempat tinggalnya, sebagian orang baru memahami jika dia adalah penulis yang tekun. Tak ada profesi lain yang dia tekuni, kecuali menulis. Sesaat memang dia sempat bergabung dalam jajaran pengurus media. Seperti aktivitas dirinya dalam dunia pergerakan yang menaruh kepedulian pada persoalan dan masalah rakyat.

Tiada pemberitaan atas kematian penulis ini dalam berbagai media yang pernah -- atau bahkan biasa -- memuat karya tulisnya. 

Sangat mungkin bagi banyak orang, tulisan yang dia buat tidaklah terlalu penting untuk diperhitungkan. Sebab nilai kritis yang tersisip pada setiap karyanya lumayan santun untuk tidak menohok perasaan orang lain. Tapi topik yang dia usung dapat dipastikan selalu up to date, mengingat dirinya sebagai  pembaca dan pengamat sosial kemasyarakatan yang aktif dan serius.

Kumpulan tulisannya yang sudah terhimpun -- setelah dimuat oleh beragam media itu -- terbilang sekitar 3.200 artikel dengan bermacam ragam topik dan isu terbaru yang sedang terjadi dalam masyarakat pada saat itu juga. Sejatinya, dia ingin sekali menjadikan kumpulan buah karyanya itu sebagai batu nisan abadi. Sehingga bagi semua orang yang ingin melakukan ziarah kubur cukup membaca kumpulan tulisannya yang telah diabadikan itu.

Begitulah nasib dan suratan tangan, semua berada pada izin Allah. Seperti kematian yang menjadi bagian dari sejumlah rahasia dan kekuasaan-Nya.

Atas inisiatif sobat karibnya, sepenggal puisi pendek karyanya tentang kematian yang dia tulis semasa hidup, dipahat secara khusus dalam bentuk ukiran kaligrafi, untuk menandai duka cita sobat dan sahabatnya yang sangat hormat dan menghargainya.


Banten, 14 Februari 2024