Iklan VIP

Redaksi
Kamis, 25 April 2024, 13:51 WIB
Last Updated 2024-04-25T06:53:35Z
JatimNasionalUnair

Alasan Mengejutkan di Balik Serangan Iran ke Israel, Ini Tanggapan Dosen Unair



 
SURABAYA, Clickindonesiainfo.id - Akhir-akhir ini dunia dikejutkan dengan serangan Iran kepada Israel melalui ratusan rudal balistik dan drone. Sebagian publik pun menganggap serangan tersebut dapat memicu eskalasi yang lebih besar hingga Perang Dunia Ketiga. 

Menurut, dosen Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Airlangga (Unair), M. Muttaqien, S.I.P., M.A., Ph.D. mengatakan, serangan Iran terhadap Israel tersebut sebetulnya bukan tanpa alasan.
 
Alasan di Balik Serangan Iran
 
Serangan Iran terhadap Israel sebenarnya merupakan serangan balasan atas penyerangan konsulat jenderal Iran di Damaskus pada Senin (01/4/2024) yang dilakukan oleh Israel. 

Sama seperti kedutaan besar, konsulat jenderal merupakan wilayah kedaulatan ekstrateritorial sebuah negara. Penyerangan terhadap konsulat jenderal pun dianggap sebagai penyerangan langsung terhadap sebuah negara.
 
“Itu merupakan tindakan balasan Iran atas penyerangan konsulat Iran di Damaskus. Serangan Israel pun dianggap sebagai penyerangan langsung terhadap Iran. Lalu, Iran melakukan tindakan balasan dengan cara menyerang wilayah Israel secara langsung,” jelasnya kepada Unair News. Rabu, (24/4/2024).
 
Menurut Muttaqien, serangan Iran terhadap Israel tidak melanggar hukum internasional sebab itu merupakan tindakan balasan. Iran memiliki hak untuk membalas negara lain yang telah menyerangnya terlebih dahulu.
 
Eskalasi Konflik yang Lebih Besar
 
Banyak pihak mengkhawatirkan eskalasi konflik kedua negara tersebut akan terus meningkat. Sebagai pembalasan, Israel kemudian menyerang Provinsi Isfahan di Iran pada Jumat (19/4/2024). Namun, Israel sendiri tidak mengakui serangan tersebut sebagai pembalasan terhadap Iran.
 
“Israel sudah melakukan tindakan balasan dengan menyerang Isfahan meskipun tidak secara resmi mengatakannya. Saya kira Iran tentu akan melakukan tindakan balasan juga. Intinya, eskalasi ini akan terus meningkat meskipun upaya-upaya deeskalasi masih terus diusahakan,” papar Muttaqien.
 
Keterlibatan Aktor Negara Lain
 
Baik Iran maupun Israel keduanya tidak memiliki perbatasan secara langsung. Israel sendiri berbatasan secara langsung dengan Yordania, Suriah, Lebanon, dan Mesir. Oleh karenanya, serangan Israel terhadap Iran secara langsung akan melibatkan negara-negara tetangganya. Keterlibatan negara lain tentu akan memperluas jangkauan konflik.
 
“Jika konflik terus memanas, paling tidak negara-negara di sekitar Iran maupun Israel ikut terlibat ke dalam konflik. Selain itu, keterlibatan sekutu merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri. Misalnya Amerika sebagai sekutu Israel. Iran pun memiliki sekutu, seperti Houthi di Yaman maupun kelompok perlawanan di Iraq dan Lebanon,” tegasnya.
 
Muttaqin juga mengungkapkan bahwa, keterlibatan Amerika merupakan hal yang pasti. Amerika sebagai sekutu dekat Israel tentu akan membantu Israel baik secara langsung maupun tidak langsung, misal penyediaan data informasi dan perlengkapan militer.
 
Dampak Eskalasi yang Meningkat
 
Iran merupakan negara produsen minyak. Jika eskalasi terus meningkat, stabilitas Timur Tengah pun akan terdampak. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia bisa saja terjadi apabila pasokan minyak terganggu akibat konflik.
 
“Jelas Indonesia juga akan terdampak. Lalu lintas energi dari Timur Tengah akan melewati Indonesia menuju Asia Timur. Harga minyak tentu akan mempengaruhi belanja pemerintah sebab Indonesia sendiri negara importir minyak. Selain itu, sentimen publik terhadap sikap pemerintah pun perlu diperhatikan,” jelasnya.
 
Upaya yang Perlu Dilakukan Pemerintah Indonesia
 
Menurut Muttaqien, persoalan dari konflik Iran dan Israel akhir-akhir ini berakar pada konflik di Palestina. Genosida yang sedang terjadi di Gaza dan Tepi Barat harus segera diakhiri.
 
“Pemerintah Indonesia harus lebih mendorong agar masalah Palestina bisa segera terselesaikan. Kapasitas Indonesia adalah berdiplomasi multilateral, seperti melalui PBB. Mengingat Indonesia secara hukum tidak mengakui kedaulatan Israel, tentu sulit apabila Indonesia menjadi penengah antara Iran dan Israel,” tutupnya. (ari)