JAKARTA,Clickindonesiainfo.id – Mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing di tingkat global tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik. Pendidikan karakter, kepemimpinan, dan pendampingan yang berkelanjutan juga menjadi bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia unggul.
Pendekatan tersebut diterapkan SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB), sekolah berasrama di bawah naungan Polri yang memadukan kurikulum internasional dengan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai kebhayangkaraan.
Ketua Pengurus LPKTB, Irjen Pol. Dr. Budhi Herdi Susianto, S.H., S.I.K., mengatakan pengembangan pendidikan di SMA KTB merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi dan daya saing di masa depan.
Dalam wawancara di program Primetime News Metro TV, Budhi menyampaikan bahwa pihaknya berharap lulusan SMA KTB tidak hanya mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di dalam negeri, tetapi juga berkompetisi untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.
“Lulusan-lulusan dari SMA KTB ini juga bisa tidak hanya nanti melanjutkan di dalam negeri saja, tapi juga kita harapkan mereka akan bersaing dan melanjutkan di perguruan tinggi di luar negeri,” ujar Budhi.
Menurutnya, orientasi pendidikan yang terencana dan berkelanjutan menjadi salah satu upaya untuk menghasilkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan global.
*Kurikulum Internasional Dipadukan dengan Nilai Kebangsaan*
Kepala Sekolah SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Hendri Adi, menjelaskan bahwa sekolah tersebut menggabungkan pendidikan akademik berstandar internasional dengan pembentukan karakter serta latihan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai keindonesiaan.
Salah satu program unggulan yang diterapkan adalah International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP), yang ditujukan bagi siswa kelas XI dan XII. Adapun siswa kelas X mengikuti perpaduan kurikulum nasional dan kelas persiapan menuju program diploma internasional tersebut.
Skema pembelajaran ini dirancang untuk membangun fondasi akademik siswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi sistem pendidikan internasional.
Di sisi lain, identitas sebagai sekolah berasrama di bawah naungan Polri turut membentuk pendekatan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar di kelas.
Nilai-nilai kebhayangkaraan diintegrasikan dalam kehidupan asrama, kedisiplinan, pengasuhan, serta aktivitas sehari-hari siswa. Dengan demikian, proses pendidikan dan pembentukan karakter berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya selama jam pelajaran.
*Perwira Muda Polri Jadi Mentor Siswa*
Untuk memperkuat pembinaan siswa, SMA KTB juga menerapkan sistem mentoring dengan melibatkan perwira-perwira muda Polri.
Hendri menjelaskan, para mentor dipilih dari kalangan perwira muda yang memiliki rentang usia relatif dekat dengan siswa. Sebagian besar di antaranya merupakan lulusan program magister di luar negeri melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kehadiran mentor diharapkan memberikan ruang bagi siswa untuk belajar dari pengalaman nyata, memperluas wawasan, serta mengenali berbagai peluang pendidikan dan karier.
Sekolah menerapkan rasio satu mentor untuk setiap 15 siswa. Melalui pola pendampingan tersebut, pembinaan diharapkan lebih terarah sehingga setiap siswa memperoleh perhatian yang memadai dalam mengembangkan potensi dan merencanakan masa depannya.
Selain mentoring, pengawasan siswa dilakukan selama 24 jam sebagai bagian dari sistem pendidikan berasrama. Pendekatan ini menggabungkan pembelajaran akademik dengan pembiasaan disiplin, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
*Pendaftar Tembus 19.400 Orang*
Tingginya minat masyarakat terhadap model pendidikan tersebut terlihat dari jumlah pendaftar yang dilaporkan pihak sekolah.
Ketua Tim Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA KTB, Dewi Amri, mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar telah mencapai sekitar 19.400 orang menjelang penutupan pendaftaran. Pihaknya berharap angka tersebut meningkat hingga menembus 20.000 pendaftar.
Dalam wawancara di program Primetime News Metro TV, Dewi juga menjelaskan bahwa pembangunan dan pengembangan sekolah dilakukan secara bertahap.
Pada tahun pertama, sekolah belum memiliki bangunan sendiri. Proses perencanaan dan pembangunan kemudian mulai berjalan pada tahun berikutnya, sebelum kegiatan pendidikan pada tahun ketiga didukung oleh sistem pembelajaran dan pendampingan siswa.
Besarnya jumlah pendaftar menjadi salah satu indikator tingginya perhatian masyarakat terhadap model pendidikan yang menggabungkan kurikulum internasional, pembinaan karakter, dan sistem asrama.
Melalui kombinasi tersebut, SMA Kemala Taruna Bhayangkara berupaya menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kedisiplinan, kepemimpinan, dan kesiapan untuk melanjutkan pendidikan di tingkat global.
Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa investasi pendidikan jangka panjang tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik, melainkan juga pada pembentukan karakter dan kesiapan generasi muda menghadapi persaingan masa depan. (Jack)



