Iklan VIP

Redaksi
Minggu, 01 November 2026, 15:22 WIB
Last Updated 2026-11-01T08:23:10Z

Dialog di Museum Sumpah Pemuda, Slamet Ariyadi Ingatkan Bonus Demografi Tak Boleh Disia-siakan




JAKARTA, Clickindonesiainfo.id– Tantangan menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup dijawab dengan mengenang semangat perjuangan para pendiri bangsa. Generasi muda dituntut menerjemahkan nilai-nilai Sumpah Pemuda ke dalam karya, kompetensi, dan kolaborasi nyata. Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional Untuk Negeri yang digelar Swarna Dwipa Institute di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya No. 106, Kwitang, Senen, Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Mengusung tema “Menuju 1 Abad Sumpah Pemuda Indonesia: Pemikiran, Semangat dan Implementasi Menuju Indonesia Emas”, dialog ini menghadirkan Anggota DPR RI H. Slamet Ariyadi dan Pengamat SDI Febby Lintang sebagai pembicara.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Wakil Menteri HAM RI Mugiyanto Sipin, akademisi Prof. Franz Magnis Suseno, Warsito Ellwein, Ulung Rusman, serta puluhan aktivis 1998. Pertemuan lintas generasi dan latar belakang tersebut menjadi ruang bertukar gagasan tentang masa depan persatuan bangsa.

Anggota DPR RI H. Slamet Ariyadi mengapresiasi inisiatif Swarna Dwipa Institute yang memilih Museum Sumpah Pemuda sebagai lokasi dialog. Menurutnya, tempat bersejarah tersebut menyimpan pesan penting tentang perjuangan generasi muda dalam menyatukan bangsa.

Ia mengingatkan bahwa pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang telah menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persatuan Indonesia.

Slamet juga menilai kehadiran para senior aktivis 1998 dalam forum tersebut merupakan modal sosial yang penting. Pengalaman generasi terdahulu perlu dipertemukan dengan gagasan dan energi generasi muda agar persatuan bangsa terus diperkuat.

Sorotan utama Slamet tertuju pada bonus demografi yang diperkirakan mencapai momentum puncaknya sekitar 2030. Dengan proporsi penduduk usia produktif yang disebut mencapai 69 persen, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat pembangunan.

“Berbicara tentang bonus demografi, puncaknya insya Allah di tahun 2030 berdasarkan survei kita sudah menempati 69 persen. Ini momentum yang tidak boleh disia-siakan,” tegasnya.

Ia menekankan, besarnya jumlah penduduk usia produktif harus diimbangi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pemuda perlu ditempatkan sebagai pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat dari kebijakan negara.

Slamet turut menyatakan bahwa berbagai aspirasi dan pemikiran yang berkembang dalam dialog tersebut akan menjadi perhatian di lingkungan legislatif.

Sementara itu, Pengamat SDI dari Swarna Dwipa Institute, Febby Lintang, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Menurutnya, perjalanan menuju satu abad Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni dan romantisme sejarah.

Febby memandang gagasan persatuan yang diwariskan pada 1928 tetap relevan untuk menjawab tantangan Indonesia saat ini. Namun, bentuk perjuangan generasi sekarang harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

“Pemikiran Sumpah Pemuda itu sangat visioner. Hari ini tugas kita adalah mengimplementasikannya. Kalau dulu pemuda bersumpah dengan darah dan air mata, hari ini pemuda harus bersumpah dengan karya, kompetensi, dan kolaborasi. Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai kalau pemuda hanya jadi penonton,” ujar Febby.

Ia menambahkan, Swarna Dwipa Institute ingin mengambil peran sebagai jembatan komunikasi dan kolaborasi antara generasi senior dengan generasi muda. Pertemuan aktivis 1998, legislator muda, akademisi, dan pengamat sumber daya manusia dalam satu forum dinilai mencerminkan pentingnya menyatukan pengalaman, pemikiran, serta gagasan lintas generasi.

“Kami dari Swarna Dwipa Institute melihat semangat yang luar biasa. Senior-senior aktivis 98 bertemu dengan legislator muda, akademisi seperti Prof. Franz Magnis Suseno bertemu dengan pengamat SDM. Inilah wajah Indonesia yang kita mau. Beda latar belakang tapi satu tujuan, make your future better, menuju Indonesia yang lebih baik,” tambahnya.

Febby juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan perempuan muda dalam memanfaatkan bonus demografi. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia unggul tidak akan berjalan optimal apabila perempuan masih menghadapi keterbatasan kesempatan untuk berkembang.

“Perempuan muda adalah kunci. Kalau kita bicara SDM unggul, pastikan perempuan muda diberi ruang yang sama untuk berpendidikan, berwirausaha, dan memimpin. Semangat Sumpah Pemuda harus inklusif,” pungkasnya.

Dialog Nasional Untuk Negeri tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjaga relevansi nilai-nilai Sumpah Pemuda. Menjelang satu abad peristiwa bersejarah itu pada 2028, pesan persatuan diharapkan tidak hanya menjadi ingatan kolektif, tetapi juga landasan kerja sama lintas generasi dalam menyiapkan Indonesia menghadapi 2045.

Pada akhirnya, bonus demografi hanya akan menjadi peluang apabila generasi muda memiliki kapasitas, akses, dan ruang untuk berkontribusi. Semangat Sumpah Pemuda pun perlu menemukan bentuk barunya: bukan sekadar ikrar persatuan, melainkan kerja bersama untuk masa depan bangsa.