Pungkat, Gaung, Indragiri Hilir - Rabu, 4 November 2026
Potret memilukan dunia pendidikan di pelosok pesisir masih terjadi di Desa Pungkat, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Setiap hari, puluhan anak sekolah dan beberapa guru MTs Desa Pungkat harus menyeberangi sungai dengan alat transportasi tradisional bermesin yang dikenal warga dengan sebutan Perahu Pocai.
Rute yang mereka tempuh adalah dari Parit Nibung dan Parit H. Bidin, Dusun Mekar Jaya, menuju Pelabuhan Desa Pungkat. Jarak yang lumayan jauh, dengan kondisi sungai yang terkadang berarus deras.
KONDISI PERAHU SUDAH TIDAK LAYAK - RAWAN KARAM
Ironisnya, perahu yang mereka gunakan setiap hari kondisinya sudah sangat tidak layak. Kayu sudah mulai lapuk, mesin tua, dan tidak ada pelampung keselamatan. Kekhawatiran akan kecelakaan sungai, karam, atau tenggelam selalu menghantui.
Kondisi ini sudah bertahun-tahun dialami anak-anak yang berjuang menuntut ilmu.
"Kondisi ini sudah cukup lama dialami oleh anak-anak pulang pergi untuk menuntut ilmu di MTs Desa Pungkat. Dalam perjalanan, anak-anak tersebut terkadang kehujanan. Miris dan sedih juga melihatnya. Kita ingin membantu melalui anggaran desa, namun kondisi dana desa tidak ada untuk itu," ujar Kepala Desa Pungkat, Junaidi, saat dimintai keterangan, Rabu (4/11/2026).
SUARA ORANG TUA: TAKUT SETIAP ANAK BERANGKAT
Seorang wali murid dari Dusun Mekar Jaya yang tidak mau disebutkan namanya mengaku cemas setiap melepas anaknya berangkat sekolah.
"Tiap pagi kami merasa cemas, lihat perahunya sudah lapuk kayunya. Kalau hujan, anak-anak basah kuyup sampai sekolah. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak naik itu, anak tidak sekolah. Kami hanya bisa berdoa selamat pulang pergi," keluhnya.
SUARA GURU: MENGAJAR DENGAN RASA WAS-WAS
Salah seorang guru MTs Desa Pungkat menambahkan, perjuangan mereka bukan hanya mengajar, tetapi juga menjaga keselamatan siswa di sungai.
"Sebagian kami, guru-guru, juga ikut perahu yang sama. Kadang mesin mati di tengah sungai. Anak-anak risih dan takut. Kami sangat berharap ada perahu baru yang aman, agar anak-anak nyaman menuntut ilmu," ungkapnya.
BIAYA SWADAYA MASIH DIBEBANKAN
Untuk tetap bisa beroperasi, siswa dipungut iuran kurang lebih sebesar Rp50.000 per bulan per siswa. Uang tersebut hanya cukup untuk membeli BBM dan perawatan seadanya, tidak untuk membeli perahu baru.
HARAPAN BESAR KEPADA DONATUR
Melalui berita ini, Pemerintah Desa Pungkat membuka pintu seluas-luasnya bagi para donatur, hamba Allah, dermawan, serta pihak terkait:
1. Pemerintah Kabupaten Inhil,
2. BAZNAS Kabupaten Indragiri Hilir,
3. CSR Perusahaan di Inhil,
Untuk membantu pengadaan 1 unit Perahu Pocai bermesin baru yang layak dan aman bagi anak-anak MTs Desa Pungkat.
"Saat ini kami berharap ada para donatur yang mau membantu transportasi, karena kondisi transportasi perahu yang sudah mulai lapuk dan kurang layak dipakai. Kami khawatir terjadi hal-hal terhadap anak-anak kami," harap Kades Junaidi.
Jangan biarkan semangat anak pesisir untuk menjadi hafiz, ulama, dan generasi penerus bangsa tenggelam bersama perahu lapuk. (firman)




