Iklan VIP

Admin
Selasa, 18 Agustus 2026, 21:29 WIB
Last Updated 2026-08-18T14:29:23Z

𝑷𝒆𝒌𝒊𝒌 𝑴𝒆𝒓𝒅𝒆𝒌𝒂 𝑽𝒐𝒍. 𝟑 𝑲𝒖𝒑𝒂𝒔 𝑴𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒆𝒏𝒊 𝒅𝒊 𝑰𝒏𝒉𝒊𝒍. "𝑴𝒖𝒍𝒖𝒕 𝑫𝒊𝒃𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒎, 𝑴𝒂𝒕𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒅𝒂𝒓𝒂𝒉" 𝑨𝒅𝒊𝒌𝒂𝒑𝒆𝒋𝒆 𝑴𝒆𝒏𝒈𝒈𝒖𝒈𝒂𝒕 𝑲𝒆𝒃𝒆𝒃𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝑹𝒖𝒂𝒏𝒈 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌.

 


𝑮𝒂𝒓𝒅𝒂𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂.𝒄𝒐.𝒊𝒅. TEMBILAHAN, 18 Agustus 2026 - Di antara musik yang mengalun, puisi yang dibacakan, dan karya-karya yang dipajang, Pekik Merdeka Vol. 3 mencoba mengingatkan bahwa seni bukan sekadar perhiasan sebuah perayaan, seni adalah cermin. Kadang dia memantulkan wajah yang ingin kita lihat, tetapi lebih sering dia memperlihatkan wajah yang sengaja kita sembunyikan.


Digelar oleh Simple Studio Music dengan tema Stage of Freedom, kegiatan ini berlangsung Selasa, 18 Agustus 2026, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di Cafe Top Anda, Jalan Baharuddin Yusuf, Tembilahan.


Parade musik, pembacaan puisi, pameran seni rupa dan buku menjadi satu ruang perjumpaan. Namun di balik riuhnya panggung, ada sunyi yang sedang dibicarakan, "𝑩𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒏𝒂𝒔𝒊𝒃 𝒔𝒆𝒏𝒊 𝒓𝒖𝒑𝒂 𝒅𝒊 𝑰𝒏𝒅𝒓𝒂𝒈𝒊𝒓𝒊 𝑯𝒊𝒍𝒊𝒓 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉." Seni tidak akan tumbuh hanya karena seorang seniman memiliki tangan yang terampil, dia membutuhkan rumah. Rumah itu bisa berupa galeri, ruang publik, panggung kebudayaan, dukungan kebijakan, pasar karya, apresiasi masyarakat, dan keberanian untuk membuka percakapan. Tanpa itu semua, seorang seniman seperti burung yang memiliki sayap tetapi tidak menemukan langit.


Di antara karya yang membawa kegelisahan itu, terdapat karya dari salah satu seniman terbaik Tembilahan, Abdi Saputra, yang dikenal dengan nama Adikapeje. Dan karya itu berjudul "𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒊𝒍𝒆𝒏𝒄𝒆𝒅 𝑽𝒐𝒊𝒄𝒆"


Karya itu tidak berteriak, namun dia membuat kita mendengar. Mulutnya terikat rapat, matanya berlinang darah, dan warna merah memenuhi tubuhnya seperti bara yang belum selesai terbakar. Dia seperti manusia yang masih hidup, tetapi kebebasannya telah dikuburkan lebih dahulu.


Adikapeje menjelaskan bahwa karya tersebut merupakan metafora tentang matinya nurani dan kebebasan berekspresi di ruang publik. 


"𝑲𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒎𝒆𝒕𝒂𝒇𝒐𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒏𝒖𝒓𝒂𝒏𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒃𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒆𝒌𝒔𝒑𝒓𝒆𝒔𝒊 𝒅𝒊 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌. 𝑨𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒎, 𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒅𝒊𝒂𝒎, 𝒅𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒆𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒐𝒍𝒂𝒉 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒍𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒘𝒂𝒏," 𝒖𝒋𝒂𝒓 𝑨𝒅𝒊𝒌𝒂𝒑𝒆𝒋𝒆. 


Merah pada karya itu bukan sekadar warna, dia adalah amarah, dia adalah darah perjuangan, dan dia adalah pengorbanan yang mungkin pernah diperjuangkan dengan susah payah, tetapi kemudian dilupakan oleh mereka yang menikmati hasilnya.


Mulut yang terikat adalah simbol manusia yang kehilangan kata-kata, bukan karena dia tidak memiliki suara, tetapi karena ada keadaan yang membuat suara itu tidak lagi memiliki tempat.


Sedangkan mata yang berlinang darah seakan berkata, "𝑩𝒆𝒕𝒂𝒑𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕𝒌𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌𝒂𝒅𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂."


Kalimat itu seperti mengetuk pintu yang selama ini terlalu lama tertutup. Sebab seorang seniman tidak hanya hidup di dalam warna dan bentuk. Dia hidup di tengah masyarakat, dia melihat kemiskinan, ketimpangan, kebisuan, kerusakan lingkungan, kehilangan identitas, juga berbagai kegelisahan yang kadang tidak sanggup diucapkan oleh orang biasa. Lalu dia menuangkannya ke atas kanvas, ke dalam patung, ke dalam puisi, ke dalam musik, dan tiba-tiba, sesuatu yang sebelumnya tidak terdengar menjadi suara.


"𝑲𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒂𝒏. 𝑲𝒂𝒅𝒂𝒏𝒈-𝒌𝒂𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒖𝒈𝒂𝒔 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒊𝒏 𝒋𝒖𝒔𝒕𝒓𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒊𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒏𝒚𝒂𝒎𝒂𝒏," 𝒑𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒔 𝑨𝒅𝒊𝒌𝒂𝒑𝒆𝒋𝒆. 


Dan barangkali, pertanyaan yang paling tidak nyaman adalah, "𝑲𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒎, 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒓𝒊𝒕𝒊𝒌 𝒅𝒊𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂𝒑 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒂𝒏𝒄𝒂𝒎𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌𝒂𝒅𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒅𝒊𝒂𝒎, 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒍𝒊𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒊..?"


Pekik Merdeka Vol. 3 bukan hanya tentang sebuah acara yang dimulai pukul empat sore dan berakhir ketika malam datang. Dia adalah perjumpaan antara kegelisahan dan keberanian. Musik membawa suara, puisi membawa kata, buku membawa ingatan, sementara seni rupa membawa pertanyaan.


Pemerintah memiliki peran, masyarakat memiliki peran, dan seniman juga memiliki peran. Ruang seni perlu diperbanyak, pameran perlu diberi tempat, seniman muda perlu diberi kesempatan, karya lokal perlu dihargai, dan kritik melalui seni harus dipahami sebagai bagian dari kehidupan demokratis, bukan semata-mata sebagai gangguan. Sebab seniman yang diberi ruang akan melahirkan karya, karya akan melahirkan percakapan, percakapan akan melahirkan kesadaran, dan kesadaranlah yang menjaga sebuah daerah agar tidak kehilangan jiwanya.


Dan Adikapeje menutup gagasannya dengan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi tajam, “𝑲𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒎𝒖𝒍𝒖𝒕 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒎, 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒃𝒆𝒓𝒃𝒊𝒄𝒂𝒓𝒂. 𝑲𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒖𝒔𝒊𝒂 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒅𝒊𝒂𝒎, 𝒔𝒆𝒏𝒊 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒔𝒂𝒌𝒔𝒊."


Mungkin kita tidak selalu menyukai apa yang terlihat di dalamnya.

Tetapi bukankah kemerdekaan sejati justru dimulai ketika kita berani melihat wajah kita sendiri..? Tanpa topeng, tanpa takut, tanpa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Karena sebuah bangsa tidak hanya hidup dari sejarah yang dikenang. Dia hidup dari keberanian untuk terus bertanya. (𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌-𝑻𝒉𝒐𝒏𝒌 𝑩𝒍𝒖𝒆𝒔)