Penulis : DR.Pangeran GUSTI SURIAN ,S.Ag, M.Pd.I
Rabu 30 September 2026
Clickindonesiainfo.id--Menunaikan amanah organisasi bukan sekadar berpindah dari satu titik koordinat ke titik lain di peta. Bagi saya, tugas dari Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (PP IGI) untuk memonitoring kegiatan Diklat Program Organisasi Penggerak (POP) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, adalah sebuah ujian komitmen. Ini adalah tahun kedua bagi IGI dalam merawat kepercayaan besar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebuah misi suci untuk memastikan roda transformasi guru penggerak tetap berputar di jalurnya.
Namun, mengawal amanah ini menuntut ongkos fisik yang tidak murah. Menuju ke sana adalah sebuah cerita tentang batas lelah yang diuji.
Estafet Panjang Menembus Batas Lelah
Indragiri Hilir berdiri di ambang paling ujung Provinsi Riau. Untuk mencapainya, tubuh ini harus rela ditempa oleh rangkaian transit yang panjang dan menguras tenaga. Perjalanan dimulai dari hembusan angin Banjarmasin, terbang membelah udara menuju Surabaya, sebelum akhirnya mendarat di Batam. Di kota pulau ini, saya terpaksa mengendapkan lelah sejenak, menginap semalaman demi mengejar jadwal keberangkatan besok.
Senin pagi, jarum jam menunjuk pukul 09.00 WIB saat saya berdiri di Pelabuhan Sekupang. Di hadapan saya, sebuah speedboat bermesin ganda berderu, siap membelah lautan. Begitu lambung kapal menghantam gelombang, drama perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Selama enam jam penuh, tubuh ini dipaksa bersahabat dengan guncangan ombak dan raungan mesin yang memekakkan telinga. Punggung mulai kaku, menahan letih yang kian menghebat.
Tepat pukul 15.00 WIB, roda nasib membawa kapal bersandar di dermaga pemberhentian terakhir: Pelabuhan Speed Tembilahan. Saat kaki pertama kali menapak, rasa asing itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa takjub yang magis. Lanskap Tembilahan—dengan kanal-kanal air dan riak sungainya—terasa begitu serupa dengan kampung halaman saya di Kalimantan Selatan; seperti Banjarmasin, Martapura, dan Barito Kuala. Saya merasa tidak sedang mendatangi daerah asing, melainkan sedang pulang ke kampung Halaman sendiri, terbersit di hati pantas orang Banjar menyukai dan berdomisili di sini karena nuansa alamnya tidak begitu beda dengan kondisi alam di Kalimantan Selatan.
Hangatnya Rumah Kedua:
Romantisme di Atas Roda Dua
Di ujung dermaga, rasa lelah yang menggelayuti pundak runtuh seketika. Di sana, Dinda BHP bersama barisan pengurus daerah IGI Inhil telah berdiri, setia menunggu di bawah terik siang. Saat jabat tangan bertaut, kehangatan itu langsung menjalar.
Saya dibonceng menggunakan sepeda motor membelah jalanan Tembilahan. Di atas roda dua itu, ingatan saya mendadak melompat mundur ke lima tahun silam. Memori membawa saya kembali ke Bandara Ketapang, saat kawan-kawan IGI Ketapang menjemput saya dengan cara yang persis sama: berboncengan motor dengan penuh tawa.
Inilah magis yang membedakan IGI dengan organisasi profesi lainnya. Di IGI, ke mana pun kaki melangkah di seantero Nusantara, baju seragam yang kami kenakan adalah paspor menuju keluarga besar yang tanpa sekat. Nilai persahabatan, kebersamaan, kekompakan, dan kekeluargaan yang kental bukan sekadar jargon, melainkan ruh yang hidup. Sore itu, setelah dijamu kuliner khas Tembilahan yang memanjakan lidah, saya diantarkan ke Hotel Top 5 Tembilahan untuk mengistirahatkan tubuh yang telah terkuras habis oleh perjalanan panjang.
Ruang Kelas:
Antara Kegugupan dan Nyala Semangat
Senin, 18 Oktober 2022, jam tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika Ibu Ketua IGI Inhil sudah menjemput saya. Tujuan kami adalah SMPN 2 Tembilahan. Begitu tiba, aura semangat langsung terasa. Para guru peserta diklat POP telah berkumpul, siap menunjukkan hasil dari jerih payah pelatihan mereka.
Di sela silaturahmi dan cengkrama, mereka menumpahkan cerita. Mayoritas menyampaikan betapa diklat POP ini telah mendongkrak kompetensi dan profesionalisme mereka dalam mengajar. Di hadapan mereka, saya menitipkan satu pesan mendalam: "Jangan pernah berhenti belajar. Jadilah guru pembelajar sejati, selaras dengan motto kita: Sharing and Growing Together. Teruslah bergerak dan menggerakkan, menebar kebajikan tanpa batas. Ilmu dan teknologi berlari cepat; jika kita mandek, kita akan tertinggal oleh murid kita sendiri."
Demi efisiensi, monitoring praktik mengajar disepakati dilakukan secara intim di dalam kelas, hanya dihadiri oleh saya dan Pendamping Daerah (Pasda), sementara guru-guru lain merekamnya untuk didiskusikan bersama nanti.
Pukul 09.30 WIB, tirai pertunjukan perdana dibuka oleh Bapak Dian Ramadhani, S.Pd. Setelah meminta izin, beliau memulai kelas dengan doa, absensi, dan pretes. Di awal, ketegangan penonton dan petugas Monev tampak membuat Pak Dian sedikit grogi. Detak nervous sempat terbaca di wajahnya. Namun, dengan luar biasa, beliau berhasil menguasai keadaan, mengalirkan materi inti hingga evaluasi dengan tenang. Sebagai catatan konstruktif, Pak Dian masih perlu menghidupkan komunikasi dan improvisasi agar kelas lebih menyenangkan, serta memaksimalkan media pembelajaran. Namun secara garis besar, ia telah tampil dengan sangat baik.
Kontras dramatis terjadi saat saya melangkah ke ruang kelas berikutnya, yang dipimpin oleh Ibu Hj. Farida. Secara usia, Bunda Faridah tak lagi muda, namun energinya membalikkan semua logika angka. Penampilannya luar biasa! Rencana pembelajaran diimplementasikannya dengan improvisasi yang begitu hidup. Kelas riuh oleh yel-yel dan tepuk tangan yang ia racik untuk menjaga fokus siswa. Teori-teori dari diklat POP IGI teraplikasi dengan matang di jemarinya.
Dari Bunda Faridah, ada pesan tersirat yang menampar kita semua: usia bukanlah penghalang untuk berhenti belajar. Semangatnya membuktikan bahwa guru yang kreatif, inovatif, dan berani mencoba menggunakan teknologi tidak akan pernah lekang oleh zaman.
Ruang Kerja Kepala Sekolah:
Diskusi Substantif Suku Banjar
Setelah diskusi seru membedah hasil praktik mengajar bersama para peserta dan Pasda yang dibuka secara seremonial, jarum jam menunjuk pukul 12.30 WIB. Saya melangkah ke ruang kerja Kepala SMPN 2 Tembilahan, Bapak Drs. Bastian, M.Si. Beliau keturunan suku Banjar. Sangat kental sekali bahasa banjar hulu. Komunikasipun terjalin sangat komunikatif di barengi dengan tawa canda khas orang Banjar.
Wawancara formal dimulai dengan santai, dibalut silaturahmi. Sebuah kejutan kecil mencairkan suasana ketika kami menyadari bahwa kami sama-sama berasal dari Suku Banjar. Kedekatan emosional ini membuat dialog mengalir hangat, penuh tawa, namun tetap tajam.
Kami sangat mengapresiasi komitmen luar biasa dari Pak Bastian terhadap IGI Inhil. Beliau bahkan dengan tangan terbuka mempersilakan ruang laboratorium komputer SMPN 2 Tembilahan digunakan untuk kegiatan-kegiatan IGI ke depan. Sebuah dukungan konkret yang patut diacungi jempol.
Namun, tugas objektif seorang petugas Monev harus tetap ditegakkan. Di balik kelancaran wawancara dari item pertama hingga terakhir, saya menemukan beberapa celah yang menjadi catatan evaluasi. Terdapat beberapa poin substantif dari panduan materi diklat kepemimpinan kepala sekolah yang belum tersampaikan sepenuhnya oleh Pak Bastian. Terutama terkait dengan tupoksi kepala sekolah mengenai manajerial, supervisi, dan posisinya sebagai pemimpin pembelajaran yang idealnya terinternalisasi secara utuh pasca-diklat. Tak terasa wawancara dengan pa Sebastian berakhir, Alhamdulilah sampai sekarang jalinan komunikasi dengan beliau tetap berjalan.
Ziarah Spiritual:
Menemukan Banjar di Tanah Riau
Seluruh rangkaian acara formal Monev POP akhirnya tuntas. Namun, perjalanan saya di tanah Indragiri Hilir belum benar-benar genap tanpa sebuah ziarah spiritual. Keesokan harinya, saya memutuskan untuk menziarahi makam Tuan Guru Abdurrahman Siddiq, Mufti Besar Indragiri Hilir sekaligus ulama kharismatik keturunan langsung dari ulama agung Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan).
Dari dermaga Tembilahan, petualangan berikutnya dimulai. Perjalanan menuju Kampung Dayat berlanjut dengan menggunakan speedboat dari dermaga Tembilahan. Pilihan transportasi ini sengaja diambil untuk memangkas waktu, membelah jalur sungai Indragiri yang lebar dan berarus dinamis.
Begitu mesin speedboat menderu dan haluannya mulai mengangkat memecah riak air, adrenalin dan rasa takjub kembali bercampur. Kecepatan tinggi di atas air ini menghadirkan sensasi dramatis tersendiri—hempasan angin sungai yang kuat, cipratan air di dinding fiber kapal, serta pemandangan hijau hutan rawa di kiri-kanan sungai yang bergerak cepat ke belakang. Lanskap susur sungai dengan kecepatan tinggi ini benar-benar replika sempurna dari kehidupan sungai Barito di Kalimantan, ini menegaskan kembali ikatan emosional antara tanah rantau Inhil dan tanah kelahiran Banjar. Kebetulan yang luar biasa, seolah semesta sengaja merajut benang merah memori saya. Desa ini terletak di Kelurahan Teluk Tiram. Begitu mendengar nama kelurahan itu, dada saya berdesir. Nama itu identik sekali dengan daerah Teluk Tiram yang membentang di salah satu sudut jalan Kota Banjarmasin Barat.
Menyusuri air menuju Kampung Dayat, ingatan saya langsung melompat pada keagungan Sungai Barito. Aliran air, riak gelombang, dan hembusan anginnya terasa sangat akrab. Setibanya di lokasi, keajaiban geografi itu kian mengental saat saya berbincang dengan warga setempat. Mayoritas dari mereka adalah orang-orang asal Martapura. Ketika mereka berbicara, logat dan dialek Banjar yang kental mengalir begitu saja dari bibir mereka. Untuk sesaat, saya tertegun. Saya merasa tidak sedang berada di pedalaman Riau, melainkan sedang berdiri di jantung Martapura, dikelilingi oleh dangsanak (saudara) sendiri.
Perjalanan menuju titik makam terasa kian unik dan menantang. Kami harus menyewa sepeda motor lokal, membelah jalanan setapak pedesaan untuk sampai ke peristirahatan terakhir sang Tuan Guru. Di depan pusara sang Mufti, dalam hening doa yang terpanjat, saya merasakan kedamaian yang luar biasa.
Penutup:
Merajut Sauh, Merawat Ikatan
Perjalanan ke Indragiri Hilir ini pada akhirnya bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tugas kedinasan seorang petugas Monev. Ia adalah sebuah perjalanan pulang yang mempertemukan kembali dua helai jiwa saya: amanah profesionalisme sebagai kader Ikatan Guru Indonesia, dan jati diri kultural saya sebagai seorang Urang Banjar.
Saya datang membawa mandat organisasi untuk memonitoring guru penggerak, namun pulang dengan membawa ransel penuh kehangatan persaudaraan yang tak ternilai harganya. Jarak ribuan kilometer antara Kalimantan dan Riau rupanya luruh oleh dua hal: seragam kebanggaan IGI yang merekatkan visi profesi, dan darah Banjar yang mengikat tali silaturahmi lintas pulau.
Dari atas motor yang membelah Tembilahan, hingga deru speedboat yang menyusuri replika Sungai Barito di Riau, saya meyakini satu hal: di mana pun panji IGI dikibarkan dan di mana pun dangsanak Banjar berkumpul, di sanalah rumah berada. Tugas di Inhil telah usai, namun nilai persahabatan, ketulusan pengurus daerah, dan spiritualitas yang saya reguk di tanah ini akan selamanya tertanam, abadi dan tak akan pernah lekang oleh waktu.
Sharing and Growing Together. Terus bergerak, merawat ikatan, dan menebar kebajikan.
Profil lengkap GUSTI SURIAN
NAMA LENGKAP: DR.Pangeran GUSTI SURIAN ,S.Ag, M.Pd.I
TTL : BAmbangin(BATOLA),24 Desember 1975
Pendidikan :
1. S1 PAI IAIN Antasari Banjarmasin 1999
2. S2 PAI IAIN Antasari 2010
3. S3 PAI UIN Antasari Banjarmasin 2025
Pengalaman Mengajar
1. SMAN 1 Banjarmasin 2003-2010
2. MA AL ISTIQAMAH 2010-2022
3. MAN 2 Kota Banjarmasin 2021-2022
4. MTs Darul Ulum 2020-2021
5. MI Darul Ulum Pekauman 2022-2023
6. MIN 5 Kota Banjarmasin 2024- sampai Sekarang
Pengalaman Organisasi
1. Ketua forum Agamawan Lintas Iman 2010-2015
2. Sekretaris Wilayah IGI Kalsel 2010-2013
3. Ketua IKATAN GURU INDONESIA( IGI) Kalsel 2013-2015
4. Bendum PP IGI 2016-2021
5. Direktur Advokasi PP IGI 2021-2023
6. Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Kalimantan Selatan 2022-2027
7. Ketum PP Perkumpulan Teacherprenuer Indonesia Cerdas(PTIC) 2021-2023
8. KETUA WILAYAH
PERKUMPULAN GURU MADRASAH(PGM) INDONESIA Kalsel 2022-2027
9. Ketum PP Perkumpulan Guru Cendekia Cinta Anak Negeri (PGCN) 2023-2028.
STATUS PNS Kemenag .
Penerbit : media online clickindonesiainfo
Abdul Hadi (Hadigus)






