Iklan VIP

Admin
Kamis, 01 Oktober 2026, 08:34 WIB
Last Updated 2026-10-01T02:00:39Z

Ria Saptarika, Terima Keluhan warga Perumahan Classic Indah Terkait Fasum Hingga Lapangan Kerja.

 


BATAM – Sejumlah persoalan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari menjadi perhatian warga Perumahan Classic Indah, Kelurahan Sungai Langkai, Kecamatan Sagulung,  saat mengikuti kegiatan Sosialisasi Empat Konsensus Dasar Bernegara atau yang lebih dikenal dengan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama masyarakat yang digelar di fasilitas umum (Fasum) Perumahan Classic Indah, Rabu (30/09/2026).


Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPD RI Ria Saptarika sebagai narasumber sekaligus menjadi ruang dialog bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lingkungan tempat tinggal.

Dalam dialog, warga tidak hanya menanyakan persoalan kebangsaan dan kelembagaan MPR, tetapi juga mengaitkannya dengan kebutuhan nyata masyarakat di tingkat lingkungan.


Sejumlah pertanyaan mengemuka, mulai dari kondisi dan pemanfaatan fasum, drainase dan potensi genangan saat hujan, akses terhadap pekerjaan, pelayanan sosial, hingga bagaimana aspirasi masyarakat dapat benar-benar diteruskan menjadi kebijakan pemerintah.


Salah seorang warga mengatakan, persoalan fasilitas lingkungan menjadi kebutuhan yang paling mudah dirasakan masyarakat karena berkaitan langsung dengan kenyamanan keluarga sehari-hari.

“Kami berharap fasum ini benar-benar bisa dimanfaatkan dan dirawat untuk kepentingan warga. Kalau fasilitas lingkungan baik, anak-anak punya tempat bermain dan masyarakat juga punya ruang untuk berkegiatan,” ujar salah seorang warga.


Persoalan infrastruktur lingkungan menjadi perhatian tersendiri di kawasan permukiman di kecamatan Sagulung. Pemerintah Kota Batam dalam sejumlah programnya juga telah mencatat kebutuhan peningkatan fasilitas umum, jalan, maupun drainase.

Selain infrastruktur, warga juga menyoroti persoalan ekonomi keluarga, khususnya kesempatan kerja.


 Pertanyaan mengenai sulitnya memperoleh pekerjaan, batasan usia pelamar, serta kebutuhan peningkatan keterampilan dinilai semakin relevan bagi masyarakat usia produktif di kawasan permukiman.

“Kami bukan hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga kesempatan. Banyak warga yang masih usia produktif ingin bekerja, tetapi terkendala usia, pendidikan atau persyaratan lainnya. Apa yang bisa dilakukan pemerintah agar masyarakat di lingkungan seperti kami mendapatkan akses pekerjaan?” kata warga lainnya.

Persoalan ketenagakerjaan memang menjadi salah satu isu yang sebelumnya turut disampaikan masyarakat dalam forum penyerapan aspirasi di wilayah Sungai Langkai. Selain pekerjaan, warga juga mengeluhkan infrastruktur lingkungan seperti fasum dan drainase.


Ria Saptarika : Aspirasi Warga Harus Terhubung dengan Kehidupan Sehari-hari


Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Ria Saptarika mengatakan bahwa kegiatan SOS MPR tidak semestinya berhenti pada penyampaian materi mengenai MPR dan kehidupan berbangsa, tetapi harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami secara langsung.

“Masyarakat tentu memiliki persoalan yang berbeda-beda. Karena itu, ruang dialog seperti ini penting agar persoalan yang muncul di tingkat lingkungan dapat didengar, dicatat dan diperjuangkan sesuai kewenangan masing-masing,” kata Ria Saptarika.


Menurutnya, persoalan seperti fasilitas umum, lingkungan tempat tinggal, pekerjaan, pelayanan sosial dan pendidikan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun kehidupan bernegara.

Ia juga mendorong masyarakat agar tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi ikut menjaga dan mengawasi fasilitas yang telah tersedia.

“Aspirasi masyarakat akan memiliki kekuatan ketika disampaikan secara bersama, berdasarkan kebutuhan nyata, dan diikuti dengan partisipasi masyarakat dalam menjaga hasil pembangunan,” ujarnya.


Warga Minta Aspirasi Tidak Berhenti di Forum

Warga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum pertemuan, tetapi menghasilkan tindak lanjut yang dapat dirasakan masyarakat.

Salah seorang warga berharap persoalan lingkungan yang disampaikan dapat diteruskan kepada instansi yang memiliki kewenangan.

“Kami senang bisa menyampaikan langsung apa yang kami rasakan. Harapannya setelah pertemuan ini ada tindak lanjut. Jangan sampai masyarakat hanya ditanya dan didengar, tetapi persoalannya kembali seperti semula,” ujarnya.

Kegiatan SOS MPR bersama masyarakat di Perumahan Classic Indah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa isu kebangsaan di tingkat masyarakat dapat dibicarakan melalui persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: lingkungan yang nyaman, fasilitas umum, pekerjaan, pelayanan pemerintah dan masa depan keluarga.(Hadigus)