Iklan VIP

Redaksi
Kamis, 18 Juni 2026, 14:20 WIB
Last Updated 2026-06-18T07:25:07Z

Ngaji Budaya Kebangsaan di Pasuruan, Polisi Ajak Masyarakat Pahami Sejarah Secara Jujur dan Jaga Kerukunan


PASURUAN,Clickindonesiainfo.id – Semangat merawat persatuan bangsa melalui pemahaman sejarah dan budaya mengemuka dalam forum Ngaji Budaya Kebangsaan yang digelar Komunitas Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) di Caffee Zaco Korner, Desa Gajah Bendo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Rabu malam (17/6/2026).


Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan tersebut menghadirkan KBO Binmas Polres Pasuruan, Iptu Bambang Hariyadi, S.Pd., S.Sos., sebagai narasumber utama. Dalam dialog interaktif itu, peserta diajak memperdalam pemahaman tentang sejarah bangsa, tradisi budaya, serta pentingnya memperkuat persaudaraan antarumat beragama.


Acara dihadiri sejumlah tokoh PWI-LS, di antaranya Sekretaris PWI-LS Ustadz Faridz Miftah, Kasepuhan PWI-LS Ustadz Tajuddin, Kementerian Budaya Gus Mamik, Budayawan Mbah Minto Harso, serta anggota PWI-LS dari berbagai wilayah di Kabupaten Pasuruan.


Dalam pemaparannya, Iptu Bambang menegaskan bahwa sejarah harus dipahami secara objektif berdasarkan fakta dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara budaya perlu dipelajari dari akar tradisi yang melahirkannya, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau cerita yang belum teruji kebenarannya.


"Persatuan bangsa harus menjadi pijakan utama dalam memandang sejarah, budaya, dan kebangsaan. Jangan sampai kita terjebak pada kepentingan kelompok yang justru memecah belah persaudaraan," tegasnya.


Menurutnya, Indonesia lahir dari perjalanan sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari peran agama, budaya, dan perjuangan para pendahulu bangsa. Dalam konteks Islam Nusantara, Walisongo dinilai memiliki kontribusi besar melalui pendekatan dakwah yang mengedepankan pendidikan, budaya, seni, dan pembinaan sosial masyarakat.


Ia juga mengingatkan bahwa memahami sejarah tidak cukup hanya berdasarkan cerita turun-temurun. Kajian harus dilakukan melalui sumber sejarah, manuskrip, peninggalan budaya, hingga perkembangan peradaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.



Diskusi berlangsung dinamis ketika peserta mengangkat berbagai persoalan terkait tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat. Menanggapi hal itu, Iptu Bambang mengajak masyarakat bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.


"Ngaji budaya bukan berarti menerima semua tradisi tanpa kajian, tetapi juga bukan menolak semuanya tanpa pemahaman. Dengan ilmu dan wawasan yang cukup, masyarakat akan lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan," ujarnya.


Suasana forum semakin hidup ketika Iptu Bambang menyisipkan sejumlah ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi sebagai landasan dalam menjelaskan pentingnya toleransi, persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa. Paparan yang lugas dan menyejukkan tersebut mendapat apresiasi dari para tokoh agama dan peserta yang hadir.


Sekretaris PWI-LS, Ustadz Faridz Miftah, menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan kontribusi Polres Pasuruan dalam memberikan wawasan kebangsaan kepada masyarakat melalui forum tersebut.


Menutup kegiatan, Iptu Bambang kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan antarumat beragama, memperkuat persaudaraan, serta memahami sejarah dan budaya secara arif. Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan besar yang harus dirawat bersama demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.


"Jika sejarah dipahami dengan jujur, budaya disikapi dengan bijak, dan persaudaraan terus dijaga, maka Indonesia akan tetap kuat di tengah keberagamannya," pungkasnya.(Jack)