Oleh: Dr. Pangeran Gusti Surian, M.Pd.I.
“Pendidikan bukan sekadar tentang memindahkan pengetahuan dari pikiran ke pikiran, melainkan tentang menumbuhkan harapan, menyentuh hati, dan menyalakan cahaya perubahan dalam kehidupan.”
Menjemput Amanah, Menyusuri Jalan Pengabdian
Menunaikan amanah organisasi di dunia pendidikan laksana menanam benih masa depan. Setelah merampungkan catatan perjalanan di Negeri Seribu Parit Indragiri Hilir, langkah kaki saya kembali terayun demi sebuah misi suci yang serupa. Kali ini, Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (PP IGI) memberikan mandat kepada saya untuk mengawal Program Organisasi Penggerak (POP) Jenjang SD Tahun 2023 di Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah.
Sebuah tugas pemantauan terhadap kegiatan On Service Penguatan Guru dan Kepala Sekolah Sasaran. Perjalanan menembus batas provinsi ini menjadi lembar cerita baru tentang komitmen, edukasi berbasis hati, dan hangatnya rajutan persaudaraan.
Membelah Fajar Menuju Bumi Handep Hapakat
Selasa pagi, 16 Mei 2023, jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30 WITA ketika saya mulai membelah jalanan dari Banjarmasin. Namun, perjalanan dinas kali ini terasa jauh lebih istimewa dan menenteramkan hati, karena di samping saya duduk istri tercinta yang setia mendampingi dan menemani.
Kehadirannya di dalam mobil bukan tanpa alasan yang mendalam. Sebagai seorang pejuang organisasi yang kerap didera kelelahan fisik, saya sering kali tak kuasa menahan kantuk dan tertidur pulas di sepanjang jalur darat. Di sinilah peran indahnya bermula; istri tercinta hadir sebagai teman pendamping terbaik, penjaga setia yang memastikan saya tetap aman, terjaga, dan merasa nyaman selama menempuh perjalanan jauh.
Udara pagi yang sejuk seolah merestui perjalanan domestik lintas provinsi kami menuju jantung Kalimantan Tengah. Jalur trans-Kalimantan yang membentang relatif bersahabat, hingga dalam waktu satu setengah jam, tepat pukul 08.00 WIB, roda kendaraan membawa kami memasuki wilayah Kabupaten Pulang Pisau.
Sambil menghela napas sejenak, saya memutuskan rehat di Rumah Makan Candi Laras Pulang Pisau. Tak berselang lama, hangatnya atmosfer keluarga besar IGI langsung terasa saat Ketua IGI Pulang Pisau datang menjemput. Tanpa membuang waktu, kami segera meluncur menuju episentrum kegiatan.
Panitia telah memetakan titik pendampingan secara strategis di beberapa sekolah, yakni SDN Kalawa 1, SDN Anjir Pulang Pisau 1, dan SDN Anjir Pulang Pisau 3. Untuk efektivitas program, penguatan guru model dipusatkan di SDN Anjir Pulang Pisau 3, sementara penguatan kompetensi kepala sekolah bertempat di SDN Anjir Pulang
Pisau 1.
Ruang Diskusi Guru: Otonomi Lisan dan Mengajar dengan Hati
Langkah pertama saya tertuju pada ruang guru dan kepala sekolah SDN Anjir Pulang Pisau 3. Sambutan yang diberikan para peserta penguatan guru model begitu bersahabat. Setelah sesi perkenalan yang mencairkan suasana, kami langsung terlibat dalam diskusi interaktif yang tajam namun hangat seputar kompetensi, kreativitas, dan profesionalisme guru.
Di penghujung diskusi, sebuah pertanyaan kritis lahir dari Ibu Rositae, guru model dari SDN Anjir Pulang Pisau 3. "Jika sekolah kita belum secara resmi menggunakan Kurikulum Merdeka Belajar, bolehkah kita menerapkannya secara mandiri di kelas?"
Sebuah pertanyaan bernalar kritis yang langsung saya apresiasi tinggi. Saya menjelaskan secara gamblang bahwa penyusunan rencana pembelajaran—atau yang dalam istilah Kurikulum Merdeka disebut modul ajar—adalah hak prerogatif dan otonomi mutlak seorang guru.
"Silakan Bapak dan Ibu mengeksplorasi secara bebas. Baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, sejauh bapak ibu guru memahaminya, tuangkanlah ke dalam skenario PBM. Administrasi hanyalah pelengkap; sejatinya, rancangan proses belajar mengajar di dalam kelas adalah ruang merdeka bagi guru untuk berinovasi," tegas saya.
Seirama dengan ruh merdeka belajar, saya juga menitipkan pesan mendalam agar para pendidik memberikan keleluasaan penuh bagi kreativitas siswa tanpa adanya intervensi yang mengekang. Namun, stresing poin yang paling utama adalah tentang metode pendekatan.
Saya mengingatkan agar guru selalu mengutamakan niat yang ikhlas, mendidik dengan getaran cinta dan kasih sayang. Mengajar dengan hati, bukan dengan emosi atau amarah. Kebiasaan lama di mana guru selalu menuntut murid patuh melalui bentakan harus dikikis habis. Mengajar dengan marah meninggalkan luka psikologis yang dalam. Hal itu akan terekam kuat dalam memori anak hingga mereka lulus dan menua nanti. Sentuhlah mereka dengan hati, maka ilmu akan mengalir dengan sendirinya.
Ruang Kepala Sekolah: Merubah Paradigma dari Hati ke Hati
Selepas berdiskusi dengan para guru, saya bergeser menuju SDN Anjir Pulang Pisau 1 untuk membersamai pendampingan penguatan kepala sekolah sasaran. Di ruang ini, dialog mengalir lebih santai namun sarat akan nilai manajerial instruksional.
Menjelang persiapan acara On Service esok hari, saya sengaja memberikan catatan reflektif bagi para kepala sekolah. Sebagai pemimpin di satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut menjadi teladan dan inspirator, bukan sosok birokrat yang terlalu idealis dan kaku.
"Banyak kepala sekolah baru yang terjebak konflik dengan bawahannya karena terlalu kaku menerapkan regulasi secara hitam di atas putih, misalnya dalam hal absensi kehadiran," ujar saya mengingatkan.
Saya menekankan bahwa tugas utama seorang kepala sekolah adalah merawat ekosistem agar guru dapat mengajar dan menyelesaikan kewajiban mendidiknya dengan nyaman. Kedisiplinan adalah sebuah proses panjang. Untuk mengubah paradigma guru yang terbiasa santai, kepala sekolah tidak boleh menggunakan tangan besi, melainkan harus mengetuk pintu hati mereka secara perlahan lewat pendekatan personal. Jadikan sekolah sebagai sebuah keluarga besar. Jika rasa kekeluargaan itu sudah tumbuh, kesadaran untuk berubah akan lahir secara mandiri.
Tepat pukul 12.30 WIB, agenda pemantauan hari pertama berakhir dengan sukses. Sebelum kembali ke penginapan untuk mengistirahatkan fisik, panitia menjamu saya dengan makan bersama, menikmati kelezatan kuliner khas Bumi Handep Hapakat yang menggugah selera.
Puncak Acara: Sinergi Kuat dan Estafet Mandat Pusat
Rabu pagi, 17 Mei 2023, jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika Ketua Panitia telah menjemput saya di penginapan. Kami bergerak menuju lokasi puncak acara. Setibanya di sana, aula dipenuhi oleh energi positif. Seluruh peserta telah hadir dengan rapi, termasuk jajaran perwakilan pemerintah daerah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau.
Tepat pukul 08.00 WIB, acara Pembukaan On Service Penguatan Guru dan Kepala Sekolah Sasaran POP IGI Pulang Pisau 2023 resmi dibuka di SDN Anjir Pulang Pisau 1. Acara dipandu apik oleh Ibu Susanti, S.Pd. (Bendahara IGI Pulang Pisau) sebagai pembawa acara, dan dilanjutkan dengan laporan komprehensif dari Plt. Ketua IGI Kabupaten Pulang Pisau sekaligus Ketua Pelaksana, Bapak Boy Tridesta, S.Pd.
Dalam laporannya, Pak Boy memaparkan secara kronologis perjuangan panjang kepanitiaan—mulai dari tahap perencanaan, koordinasi intensif bersama Pengurus Wilayah dan Pengurus Pusat IGI, hingga implementasi riil di lapangan. Beliau juga menyampaikan data valid keikutsertaan peserta dan menutupnya dengan ucapan terima kasih yang mendalam atas dukungan Dinas Pendidikan setempat, seraya memohon Kepala Dinas untuk berkenan membuka acara secara resmi.
Estafet mikrofon kemudian beralih kepada saya. Pada kesempatan berharga ini, saya berdiri menyampaikan sambutan sebagai Pemantau Pusat perwakilan PP IGI, menggantikan sahabat saya, Bapak Ikhwan Fahrudin, yang terkendala teknis akibat kehabisan tiket pesawat karena seluruh jadwal penerbangan dari Jakarta menuju Banjarmasin maupun Palangkaraya terisi penuh (full booked).
Di hadapan mimbar, saya menyampaikan rasa takzim dan terima kasih yang mendalam atas ketulusan para guru peserta yang memilih untuk terus belajar.
"Guru adalah agen perubahan (agent of change) yang memegang peran paling urgen dan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta menyiapkan Generasi Emas Indonesia. Peran ini tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun," tutur saya disambut tepuk tangan khidmat.
Saya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau atas komitmennya mendukung pergerakan IGI. Mewakili Pengurus Pusat, saya menitipkan pesan kepada Dinas Pendidikan agar terus membimbing, mengarahkan, dan memberikan support moral maupun struktural bagi kepengurusan IGI daerah. Sinergi yang kokoh ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata yang masif bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Pulang Pisau.
Memasuki acara inti, sambutan terakhir sekaligus peresmian pembukaan acara disampaikan dengan sangat berbobot oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau yang pada kesempatan ini diwakili dengan mandat penuh oleh Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan (Kabid PTK), Bapak Kuadi, S.Pd., MM.
Dalam sambutannya, Pak Kuadi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidakhadiran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau, yang pada waktu bersamaan harus bertolak ke Palangkaraya untuk mendampingi Ibu Bupati Pulang Pisau. Lebih lanjut, Pak Kuadi memaparkan potret pemetaan data mutakhir mengenai sebaran Sekolah Penggerak serta sekolah-sekolah yang telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, mulai dari jenjang TK, SD, hingga SMP di Kabupaten Pulang Pisau.
Terkait hal tersebut, beliau menaruh harapan besar agar IGI Kabupaten Pulang Pisau dapat terus membersamai dan mengawal program Kurikulum Merdeka dengan konsisten mendampingi peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru di lapangan. Di sela-sela arahannya, Pak Kuadi juga menyoroti data riil kelompok belajar guru. Secara nasional, baru ada 3 sekolah dari Pulang Pisau yang resmi mendaftar dan terdaftar di Kemendikbudristek. Hal ini menjadi catatan tebal bagi IGI Pulang Pisau untuk bergerak cepat mendampingi sekolah-sekolah yang belum teregistrasi agar dibantu dalam proses pengisian dan pengiriman data ke pusat.
Mengakhiri sambutannya, dengan khidmat Pak Kuadi membuka secara resmi rangkaian kegiatan On Service Penguatan Guru dan Kepala Sekolah Sasaran POP IGI Kabupaten Pulang Pisau Tingkat SD Tahun 2023.
Implementasi Lapangan: Menyeberangi Kahayan Melalui Sistem Silang
Setelah jeda istirahat (break), tirai pelaksanaan praktik mengajar langsung dibuka. Saya bersama panitia daerah dan pendamping pengawas lapangan bergerak menuju titik-titik lokasi praktik. Pemantauan diawali dengan menyaksikan langsung performa guru model di SDN Anjir Pulang Pisau 1.
Setelah dirasa cukup, saya melanjutkan perjalanan menuju SDN Kalawa 1. Perjalanan berdurasi 15 menit ini menghadirkan petualangan dramatis tersendiri. Kami harus mengambil rute pintas dengan membelah dan menyeberangi Sungai Kahayan menggunakan transportasi feri penyeberangan motor. Deru mesin feri dan riak air Sungai Kahayan yang khas seolah mengiringi tekad kami mengawal mutu pendidikan.
Setibanya di SDN Kalawa 1, atmosfer kerja keras langsung terasa. Panitia daerah, Fasilitator Daerah (Fasda), dan pihak sekolah telah bersinergi menyiapkan ruangan serta kelengkapan perangkat Pembelajaran Berbasis Murid (PBM). Uniknya, panitia menerapkan sistem silang demi menjaga objektivitas dan ruang berbagi pengalaman: guru dari SDN Anjir Pulang Pisau 1 mempraktikkan mengajar di SDN Kalawa 1 dan SDN Anjir Pulang Pisau 3, begitu pula sebaliknya.
Selesai praktik mengajar, kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi komprehensif. Di SDN Kalawa 1 dan SDN Anjir Pulang Pisau 3, para guru berkumpul membedah proses mengajar. Sementara itu, di SDN Anjir Pulang Pisau 1, para kepala sekolah berkumpul mengadakan refleksi manajerial terkait Rencana Tindak Lanjut (RTL) pasca-diklat sebagai konsekuensi logis dari pelatihan demi mengimplementasikan pengetahuan baru ke sekolah masing-masing.
Evaluasi Objektif: Dari Tes AKM hingga Ketulusan Lisan Siswa
Sebagai bagian tak terpisahkan dari instrumen pemantauan pusat, saya didampingi panitia daerah melaksanakan Tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) kepada para siswa yang terlibat dalam PBM guru model. Evaluasi ini dilaksanakan secara acak dengan pengawasan ketat: 2 siswa di SDN Kalawa 1 dan 3 siswa di SDN Anjir Pulang Pisau 1.
Pasca-tes AKM, saya melakukan wawancara mendalam secara personal dengan siswa untuk menangkap esensi murni dari dampak pembelajaran.
Wawancara pertama dilakukan bersama siswi SDN Kalawa 1 bernama Delila Delataka. Dengan mata berbinar jujur, Delila menuturkan kesan mendalamnya saat diajar oleh Ibu Sekar Fajariah, S.Pd. (guru model asal SDN Anjir Pulang Pisau 1).
"Pembelajaran dari Ibu Guru Sekar sangat mudah dipahami, enak dicerna, dan membuat kami gembira, Pak. Kami tidak bosan karena beliau menggunakan media pembelajaran yang menarik dan menyelipkan permainan (ice breaking) yang seru di tengah kelas. Kami jadi termotivasi untuk lebih aktif dan kreatif belajar!" tutur Delila ceria.
Wawancara kedua bertempat di SDN Anjir Pulang Pisau 3 bersama siswi bernama Aqila Wangi Mengkubumi. Aqila mencurahkan kegembiraannya setelah menerima materi dari Ibu Rositae, S.Pd. (guru model asal SDN Anjir Pulang Pisau 1).
"Belajar dengan Ibu Rositae sangat menyenangkan karena beliau sering memberikan candaan atau jok-jok yang lucu, sehingga kelas terasa terhibur. Materinya mudah masuk ke otak, membuat saya lebih percaya diri dan siap untuk mengukir prestasi!" ungkap Aqila penuh semangat.
Testimoni Pendidik: Refleksi Kompetensi dan Harapan ke Depan
Apresiasi saya kian berlipat saat mewawancarai Ibu Sekar Fajariah, S.Pd. secara langsung. Dari pengamatan saya sejak menit pertama mengajar, Bu Sekar telah memiliki kompetensi pedagogik yang sangat matang. Beliau adalah tipe guru pembelajar yang rajin berselancar di Google dan YouTube untuk memutakhirkan media ajar serta teknik ice breaking yang relevan.
Saat saya tanya mengenai dampak POP IGI, Bu Sekar mengakui pelatihan ini memberikan cakrawala baru tentang cara mengintegrasikan literasi dan numerasi ke dalam mata pelajaran secara menyenangkan. Namun, beliau juga menitipkan dua saran kritis untuk keberlanjutan program di masa depan: Pertama, kontinuitas pelatihan guru penggerak ini harus tetap dipertahankan; dan Kedua, perlunya peningkatan kompetensi substansi bagi para Fasda agar lebih aktif, kreatif, inovatif, serta benar-benar menguasai materi diklat secara utuh.
Langkah pemantauan berlanjut kepada Ibu Nur Wilawati, guru model dari SDN Anjir Pulang Pisau 3 yang mempraktikkan ilmunya di SDN Anjir Pulang Pisau 1. Hasil pengamatan saya membuktikan Bu Wilawati tampil sangat siap. Beliau menerapkan model literasi berbasis prolog pembelajaran, di mana siswa diminta membaca dan membedah teks cerita secara kritis.
"Sebelum mengikuti diklat POP IGI ini, saya jujur belum pernah menerapkan metode literasi terstruktur seperti ini dalam PBM. Alhamdulillah, setelah mendapatkan ilmu dari IGI, saya mencoba mengimplementasikannya dan ternyata respons anak-anak luar biasa senang," aku Bu Wilawati penuh antusias.
Wawancara pamungkas ditutup di ruang refleksi kepala sekolah bersama Ibu Herlina Verawati, Kepala SDN Anjir Pulang Pisau 3. Sebagai seorang alumni Guru Penggerak, Bu Vera menunjukkan kapasitas kepemimpinan instruksional yang visioner. Beliau memaparkan salah satu program literasi unggulannya di sekolah yang diberi nama "Cabe Rawit".
"Program 'Cabe Rawit' ini bukan sekadar melatih anak pandai membaca teks, melainkan melatih kecakapan berliterasi dan ramah berbicara. Kami mendidik siswa agar mampu menceritakan kembali isi bacaan, berani berekspresi, serta percaya diri berbagi pengetahuan kepada teman-temannya," urai Bu Vera.
Ketika saya kulik mengenai strateginya menggerakkan guru, Bu Vera menjelaskan dua langkah taktisnya: Pertama, meminta seluruh guru aktif mengakses dan mengunduh aplikasi Merdeka Mengajar sebagai sumur pengetahuan; Kedua, konsisten menyelenggarakan pelatihan peningkatan kompetensi internal di sekolah. Di akhir sesi, Bu Vera mengakui bahwa diklat POP IGI telah berhasil merombak total mindset berpikirnya: dari yang dulunya kaku hanya berfokus pada tupoksi kerja administratif belaka, kini bertransformasi menjadi pemimpin sekolah yang inovatif dan kaya akan terobosan.
Penutup: Muara Pengabdian Lintas Provinsi
Perjalanan pemantauan di Kabupaten Pulang Pisau ini kembali menegaskan sebuah hakikat: bahwa pendidikan bermutu tinggi selalu lahir dari rahim ketulusan hati dan sinergi yang kokoh. Dari riak Sungai Kahayan hingga ruang-ruang kelas di SDN Kalawa dan SDN Anjir, denyut nadi perubahan itu nyata adanya.
IGI telah hadir meletakkan fondasi transformasi literasi dan numerasi di Bumi Handep Hapakat. Mandat pemantauan pusat telah selesai saya tunaikan, namun jabat erat kekeluargaan, dedikasi hebat para guru model, serta senyum optimis dari Delila dan Aqila akan selalu menjadi bahan bakar semangat bagi saya untuk terus mengabdi demi kemajuan pendidikan di seantero Nusantara.
Sharing and Growing Together. Terus bergerak, merawat amanah organisasi, dan menebar cinta dari hati.< Dr.Pangeran Gusti Surian, M,Pd.I : Ketum PP PGCN#Ketumwil Kalsel PGM Indonesia,#Dewan Pendiri IGI Kalsel#Ketua Wilayah KKI Kalimantan Selatan>.




