Iklan VIP

Admin
Kamis, 11 Juni 2026, 18:46 WIB
Last Updated 2026-06-11T11:46:03Z

JEMBATAN MAUT TEKULAI! KONSTRUKSI MIRING, PENYANGGA LAPUK, WARGA MINTA PEMKAB INHIL SEGERA BERTINDAK SEBELUM ADA KORBAN JIWA.

 


Indragiri Hilir - clickindonesiainfo.id - Warga Desa Tekulai keresahan setiap hari. Jembatan kayu satu-satunya yang jadi penghubung utama kini berubah jadi "jembatan maut". Kondisinya memprihatinkan, konstruksi miring, tiang penyangga lapuk dimakan usia, papan lantai reyot dan tidak stabil. Setiap kali dilintasi warga, jembatan bergoyang kencang seolah mau runtuh. Kamis, 11 Juni 2026.




Jembatan ini vital untuk mobilitas warga Tekulai. Dipakai anak sekolah berangkat menuntut ilmu, ibu-ibu mengangkut hasil kebun, petani bawa hasil kelapa, hingga warga berobat ke puskesmas. Tapi sekarang, keselamatan jadi taruhannya.


"Setiap lewat sini jantung rasanya copot. Jembatan goyang-goyang, papan ada yang hampir patah. Kami takut, apalagi anak-anak sekolah yang nggak bisa berenang kalau sampai jatuh ke sungai," ujar Suding, warga Teluk Bugis.


Keluhan sama juga disampaikan Bang Utoh Karuang, warga Tekulai Hulu. "Jembatan ini udah kayak mau ambruk. Kalau bawa motor lewat sini rasanya ngeri. Kami minta Pemkab segera lihat dan perbaiki sebelum ada korban. Ini akses satu-satunya kami Pak," tegasnya.


Warga Minta Pemkab Segera Turun Tangan. 

Warga memahami anggaran terbatas. Tapi keselamatan nyawa tidak bisa ditunda. Warga Tekulai berharap Pemkab Inhil segera mengambil langkah nyata untuk perbaikan permanen jembatan yang layak di anggaran tahun depan. 


Sambil menunggu perbaikan permanen, warga juga meminta Pemkab melakukan rehab darurat demi keselamatan bersama. "Kami nggak minta muluk-muluk Pak Bupati. Kami cuma minta jembatan yang aman buat anak cucu kami sekolah. Keselamatan warga harus jadi prioritas, bukan ditunda-tunda. Tolong Pak, segera perbaiki jembatan kami," pinta Suding dan Bang Utoh Karuang mewakili warga Tekulai.


Warga Tekulai berharap Pemkab Inhil tidak menutup mata. Jembatan ini bukan sekadar kayu dan paku, tapi nyawa, masa depan anak sekolah, dan denyut ekonomi desa. (Firman)