Iklan VIP

Redaksi
Sabtu, 28 Maret 2026, 10:04 WIB
Last Updated 2026-03-28T03:05:06Z
BeritalombokHalal BihalalLombokbaratNTBSenggigi

Syahdu dan Penuh Makna, Halal Bihalal & Lebaran Ketupat di Senggigi Jadi Momentum Pererat Ukhuwah



Senggigi, Lombok Barat,Clickindonesiainfo.id– Suasana khusyuk dan penuh kebersamaan menyelimuti Masjid Jami’ Nurul Iman Senggigi dalam kegiatan pengajian ba’da subuh bertema Hikmah Syawwal dan Halal Bihalal, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan ini dirangkaikan dengan zikir bersama serta tradisi Rowah Lebaran Ketupat yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Lombok.

Acara menghadirkan penceramah kharismatik, TGH M. Taisir Al Azhar, Lc., M.A, yang menyampaikan pesan mendalam tentang makna bulan Syawwal dan pentingnya menjaga esensi halal bihalal di tengah masyarakat.
Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan agar tradisi halal bihalal tidak hanya menjadi seremoni tahunan tanpa makna.

“Jangan sampai halal bihalal hanya jadi acara salaman dan makan-makan, tapi hati masih menyimpan dendam,” tegasnya di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa bulan Syawwal merupakan ujian lanjutan setelah Ramadhan. Jika selama Ramadhan umat mampu menahan diri, maka di bulan ini menjadi momen pembuktian keikhlasan dalam memaafkan serta memperbaiki hubungan sosial.

Menurutnya, halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan sarana menyucikan hati dan mempererat hubungan antar sesama. Ia juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat momen hari raya.

“Silaturahmi harus terus hidup. Di situlah ada keberkahan rezeki, panjang umur, dan ketenangan hidup,” tambahnya.

Selain itu, TGH M. Taisir juga mengulas makna filosofis tradisi Rowah dan Lebaran Ketupat. Ia menyebut ketupat sebagai simbol kesalahan yang “terbungkus” dan dilebur melalui permohonan maaf, sekaligus wujud rasa syukur masyarakat.

Rangkaian acara yang diisi dengan zikir bersama semakin memperkuat nuansa spiritual. Jamaah tampak larut dalam doa, memohon keberkahan dan keselamatan bagi diri, keluarga, serta masyarakat luas.

Panitia Masjid Jami’ Nurul Iman Senggigi menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin digelar sebagai sarana mempererat kebersamaan umat.

“Kami berharap kegiatan ini terus memperkuat persatuan, menjaga tradisi yang baik, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat,” ujarnya.

Dengan tingginya antusiasme jamaah, kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai halal bihalal, zikir, dan tradisi keagamaan lokal tetap hidup dan relevan di tengah kehidupan modern, khususnya di kawasan Senggigi.(RSM)